Selasa, 31 Mei 2011

Potensi Biji Lerak (Sapindus rarak) Sebagai Bioinsektisida Alami Pengganti Serbuk Abate Guna Mengendalikan Perkembangbiakan Jentik - Jentik Nyamuk di Wilayah Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo

Diposkan oleh Adita P. Hapsari di 00.49

Tulisan ini saya posting . semoga bermanfaat bagi semua yang membutuhkan terutama pada junior alias adik kelas saya (yang kelas 9 utamanya) yang sudah mulai berkonsultasi untuk ujian praktek Bahasa Indonesia (KIR - Karya Ilmiah Remaja) . dimohon tulisan ini dikaji lagi dan apabila ada struktur yang masih salah or amburadul mohon diperhatikan dan di benerin dewe2 .. 
NB : Tulisan ini diposting untuk REFERENSI bukan untuk dibajak , TRIMS !! be ur'self

KATA PENGANTAR


Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat yang Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmad dan karunia-Nya kami bisa menyusun Karya Tulis Ilmiah Remaja yang berjudul Potensi Biji Klerak (Sapindus Rarak), Sebagai Bioinsektisida Alami Sebagai Pengganti Serbuk Abate Guna Mengendalikan Perkembang Biakan Jentik - Jentik Nyamuk, di Wilayah Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo”. Adapun Karya Tulis Ilmiah Remaja ini mengupas tentang potensi biji lerak untuk mengganti abate sebagai pengendalian jentik-jentik nyamuk.
Dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah ini didasari sepenuhnya bahwa penulis masih berada dalam taraf belajar. Untuk itu, tidak menutup kemungkinan terdapatnya beberapa kesalahan maupun kekurangan, maka besar harapan penulis atas saran, kririk dan penyempurnaan lebih lanjut dari semua pihak yang berkenan.
Tak lupa pula, dalam lembaran ini penulis menghaturkan ucapan terima kasih yang sedalam-dalamya kepada :
1.                  Drs. Hartono M.Pd, selaku kepala Sekolah di SMP Negeri 1 Probolinggo yang bersedia mengijinkan untuk mengikuti Lomba Karya Tulis Ilmiah Remaja, sehingga sampai saat ini dapat terselesaikan.
2.                  Dra. Sri Utari dan Dra. Ita Nilawati selaku guru pembimbing yang telah banyak meluangkan waktu dan memberi saran dalam menyempurnakan karya tulis ini.
3.                  Ayah dan Ibu yang telah memberi dukungan dan doa demi kelancaran penyusunan karya tulis ini.
Semoga karya tulis ini dapat bermanfaat bagi semua pihak, khususnya di wilayah Kota Probolinggo dan sekitarnya. Amin . . .
Probolinggo,      Oktober  2010

                                                                                                            Penulis


ABSTRAK



Cuaca pada musim penghujan sangatlah menunjang perkembang biakan jentik – jentik nyamuk Aedes Aegypti,  penyebab penyakit demam berdarah, utamanya di Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo. Salah satu dari tumbuhan berbiji tertutup (Angiospermae) , Lerak (biasa disebut Lerek), pada umumnya dimanfaatkan sebagai pencuci kain batik sejak zaman dahulu oleh para pendahulu secara tradisional. Tumbuhan tersebut juga dipercaya sebagai tumbuhan yang bijinya mengandung racun yang sangat mematikan bagi serangga. Dengan diangkatnya judul “Potensi Biji Lerak (Sapindus rarak), Sebagai Biopestisida Alami Pengganti Serbuk Abate Guna Mengendalikan Perkembangbiakan Jentik - Jentik Nyamuk di Wilayah Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo”, dalam upaya mengurangi jumlah angka korban kematian akibat wabah demam berdarah di wilayah Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, dapat meringankan masyarakat setempat dari segi biaya maupun tingkat keefektifan Lerak itu sendiri jika dibandingkan dengan penggunaan serbuk Abate sebagai obat pembasmi jentik – jentik nyamuk (utamanya Aedes Aegypti) maupun pengasapan (foging) yang berbau tidak nyaman. Keefektifan penggunaan biji Lerak sebagai serbuk pembasmi jentik – jentik nyamuk terbukti lebih tinggi daripada tingkat keefektifan serbuk Abate, dikarenakan biji Lerak mengandung ¼ kali Saponin yang lebih beracun daripada sabun biasa. Dengan adanya penelitian ini, diharapkan masyarakat khususnya di wilayah Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo dapat memanfaatkan sumber daya alam yang ada (Lerak) dalam pengendalian perkembang biakan jentik – jentik nyamuk dengan biaya terjangkau tanpa harus menghirup asap foging yang selama ini dikenal dengan aromanya yang menusuk.






LEMBAR PENGESAHAN


Judul                           : Potensi Biji Lerak (Sapindus rarak), Sebagai Bioinsektisida Alami Pengganti Serbuk Abate Guna Mengendalikan Perkembangbiakan Jentik - Jentik Nyamuk di Wilayah Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo
Disusun oleh               : - Adita Putri Hapsari
- Vita Tri Handayani

                                    Probolinggo, 22 November 2010




Disetujui oleh  :


Pembimbing 1                                                 Pembimbing 2



                     (Dra. Ita Nilawati)                                             (Dra. Sri Utari)


           
                                                Mengetahui :

                                              Kepala Sekolah


  

                                                      (Drs. Hartono, M.Pd)



BAB I
PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang
Ragam jenis tumbuhan di Indonesia sangat bervariasi. Mulai dari tumbuhan berkeping satu (Monokotil), tumbuhan berkeping dua (Dikotil), tumbuhan berbiji terbuka (Gymnospermae) dan tumbuhan berbiji tertutup (Angiospermae) . Pada zaman dahulu , tumbuhan tak hanya menjadi penghias rumah seperti halnya saat ini. Dahulu tumbuhan digunakan sebagai sarana yang membantu manusia memenuhi keinginannya. Seperti halnya pada Bunga Sepatu  (Hibiscus rosa-sinensis) yang berfungsi sebagai semir sepatu, Biji Lerak (Sapindus rarak) yang berfungsi sebagai sabun cuci kain batik serta perhiasan, dan lain sebagainya.
Seiring berkembangnya zaman , hampir 90% kehidupan manusia di planet biru mengandalkan bantuan langsung maupun tak langsung dari benda – benda baru bertekhnologi mutakhir yang dapat membantu manusia memenuhi keinginannya dengan maksimal. Tetapi, penggunaan benda – benda bertekhnologi mutakhir tersebut dapat menimbulkan dampak yang sangat besar pada suatu lingkungan.. Tak jarang pula benda – benda mutakhir tersebut menumbulkan dampak buruk pada lingkungan sekitar. Begitu pula yang terjadi pada wilayah Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo. Warga sekitar tak lagi berpusat pada ketradisionalan tetapi juga telah merambah ke dunia tekhnologi modern. Terhadap penanggulangan perkembangbiakan jentik – jentik nyamuk yang sedang menjadi masalah utama, warga sekitar menggunakan system pengasapan (foging) serta penggunaan serbuk Abate pada bak mandi warga. Tak jarang kedua hal tersebut membawa bau menyengat pada lingkungan sekitar, seperti halnya serbuk Abate pada bak mandi yang membuat air berbau, adanya biaya yang relative tinggi serta membutuhkan jangka waktu yang panjang untuk membasmi jentik – jentik nyamuk.
Pada hal ini, salah satu dari tumbuhan berbiji tertutup (Angiospermae) yaitu tumbuhan Lerak tidak hanya dimanfaatkan sebagai pencuci kain Batik dan pembersih logam mulia utamanya di Pulau Jawa sejak zaman dahulu. Tetapi , Lerak juga dapat digunakan sebagai obat nyamuk pengganti Serbuk Abate yang kini marak diperjual belikan kepada khalayak ramai sebagai serbuk pencegah berkembangnya jentik - jentik nyamuk  demam berdarah yang belum terjamin 100% keasliannya.
Seiring berkembang biaknya nyamuk Aedes Aegypti yang begitu pesat di wilayah Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, daftar pasien penyakit Demam Berdarah terus meningkat. Untuk mencegah tertularnya penyakit Demam Berdarah terkadang juga memerlukan biaya yang kurang terjangkau bagi kalangan menengah kebawah yang sebagian besar tinggal di Probolinggo utamanya di wilayah Kecamatan Mayangan.  Biji lerak sangat mudah didapat serta biaya yang dibutuhkan sangat terjangkau. Pembuatan serbuk biji Lerak sebagai pengganti serbuk Abate mudah dilakukan oleh masyarakat serta tidak memakan waktu yang lama.
Harapan peneliti, dengan diangkatnya judul “Potensi Biji Lerak (Sapindus rarak), Sebagai Bioinsektisida Alami Pengganti Serbuk Abate Guna Mengendalikan Perkembangbiakan Jentik - Jentik Nyamuk di Wilayah Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo” dapat meringankan beban masyarakat Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo dalam upaya pencegahan penyakit menular Demam Berdarah melalui nyamuk Aedes Aegypti yang kini marak di Kota Probolinggo serta dapat menurunkan angka penderita penyakit Demam Berdarah di Kota Probolinggo yang berdampak buruk, seperti halnya kematian.

1.2  Rumusan Masalah
  • Zat - zat apa saja yang terkandung dalam biji lerak?
  • Bagaimana proses pemanfaatan biji lerak sebagai pengganti serbuk Abate?
  • Bagaimana tingkat keefektifan biji Lerak untuk mematikan jentik – jentik nyamuk yang berkembang?
1.3  Ruang Lingkup Pembahasan
Dalam proses penelitian “Potensi Biji Lerak (Sapindus rarak), Sebagai Bioinsektisida Alami Pengganti Serbuk Abate Guna Mengendalikan Perkembangbiakan Jentik - Jentik Nyamuk di Wilayah Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo” , penulis mengambil ruang lingkup wilayah SMP Negeri 1 Probolinggo yang berada di wilayah Kelurahan Sukabumi, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo dengan pertimbangan lingkungan tersebut terdapat di tengah kota dan terdapat beberapa saluran air yang mengendap serta banyaknya wabah penyakit Demam Berdarah yang menjangkit warga sekitar.

1.4 Tujuan Penulisan
  • Mengetahui zat - zat apa saja yang terkandung dalam biji lerak
  • Mengetahui proses pemanfaatan biji lerak sebagai pengganti serbuk Abate
  • Mengetahui tingkat keefektifan biji Lerak untuk mematikan jentik – jentik nyamuk yang berkembang


1.5 Metode Penulisan
Dalam penelitian “Potensi Biji Lerak (Sapindus rarak), Sebagai Bioinsektisida Alami Pengganti Serbuk Abate Guna Mengendalikan Perkembangbiakan Jentik - Jentik Nyamuk di Wilayah Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo”, penulis mengambil metode “kualitatif” yang dilaksanakan dengan menguji keefektifan serbuk biji Lerak dengan serbuk Abate pada gelas ukur 400 ml selama 2 jam dengan 2 jentik – jentik nyamuk pada masing – masing gelas ukur. Keefektifan serbuk biji Lerak dengan serbuk abate dapat dilihat setelah jentik – jentik terendam selama 2 jam pada masing – masing gelas ukur yang telah terisi serbuk Abate dan serbuk biji Lerak.


BAB II
KAJIAN TEORI


2.1       Lerak
CIU (terutama Sapindus rarak De Candole, dapat pula S. mukorossi) atau dikenal juga sebagai rerek atau lamuran adalah tumbuhan raksasa dengan tinggi yang bisa mencapai 42 meter dengan diameter batang sekitar 1 meter. Daun berbentuk bulat telur sampai langset. Perbungaanya majemuk, malai, terdapat di ujung batang, dan berwarna putih kekuningan. Buahnya berbentuk bundar seperti kelereng. Buah yang tua (masak) berwarna cokelat kehitaman, dengan permukaan buah yang licin dan mengkilap. Bijinya bundar dan berwarna hitam. Daging buahnya sedikit berlendir, tetapi mengeluarkan aroma wangi.
Buah lerak dahulu dikenal sebagai bahan untuk mencerahkan warna yang berasal dari soga (pewarna alami), seperti kain batik. Batik yang dicuci dengan buah lerak akan memiliki kualitas warna yang tetap baik dan awet. Lerak juga kerap digunakan untuk mencuci bahan-bahan dari kuningan, tembaga, bahkan emas.
Bijinya mengandung minyak. Lerak juga bisa digunakan sebagai sabun wajah untuk mengurangi jerawat. Daging buahnya mengandung saponin yang bersifat biopestisida (merupakan nama senyawa utama yang terdapat dalam buah lerak) sangat efektif dalam menekan produksi gas metana dalam rumen ternak ruminansia dan termasuk dalam bioinsektisida (pembasmi nyamuk alami) dan biopestisida (pembasmi hama). Kandungan racun biji lerak juga berpotensi sebagai insektisida. Kulit buah lerak dapat digunakan sebagai wajah untuk mengurangi jerawat dan kudis.

2.2       Sapindus
Sapindus adalah genus dari sekitar 5-12 jenis semak dan kecil pohon di Lychee keluarga, Sapindaceae , asli hangat bersuhu untuk tropis daerah baik di Dunia Lama dan Baru Dunia . The genus includes both deciduous and evergreen species. genus ini meliputi baik sulung dan hijau spesies. The fruit of the Sapindus is commonly known as a soapberry or soapnut due to its use as a soap for many centuries. Ini buah dari Sapindus umumnya dikenal sebagai soapberry atau soapnut karena digunakan sebagai sabun selama berabad-abad. oapnuts mengandung saponin yang alami surfaktan . Mereka telah digunakan untuk mencuci selama ribuan tahun oleh orang-orang pribumi di Asia serta penduduk asli Amerika . Soapnuts sedang dipertimbangkan untuk penggunaan komersial di kosmetik dan deterjen serta banyak produk lainnya.

2.3              Biopestisida
Biopestisida adalah pestisida yang mengandung mikroorganisme seperti bakteri patogen, virus dan jamur. Pestisida biologi yang saat ini banyak dipakai adalah jenis insektisida biologi (mikroorganisme pengendali serangga) dan jenis fungisida biologi (mikroorganisme pengendali jamur). Jenis-jenis lain seperti bakterisida, nematisida dan herbisida biologi telah banyak diteliti, tetapi belum banyak dipakai.

2.4       Serbuk Abate
ABATE adalah larvasida pembasmi larva/ jentik nyamuk yang telah lama dikenal oleh masyarakat. Produsen ABATE adalah PT BASF Indonesia, dan kini untuk kemudahan pemakaian di rumah saat ini tersedia ABATE kemasan 10 gr untuk pemakaian 100 liter air dalam kemasan aluminium foil berwarna hijau dan biru dengan logo BASF.

2.5       Jentik – Jentik Nyamuk
Larva akan muncul dari telur dalam 2-3 hari ketika kondisi lingkungan yang ideal. Semua larva nyamuk melalui empat tahap perkembangan yang disebut instar. instar Pertama hampir tidak terlihat oleh mata manusia. larva instar terakhir dari beberapa spesies dapat kira-kira 1 / 2 inci (12,7 mm) panjang. Larva bergerak melalui air dengan gerakan berkelok-kelok. Ketika mereka merasakan bayangan atau gerakan di habitat mereka, larva cepat akan menyelam ke bawah untuk menghindari sumber gangguan.

2.6              Sumber Daya Alam
Sumber daya alam (biasa disingkat SDA) adalah potensi sumber daya yang terkandung dalam bumi (tanah), air, dan dirgantara yang dapat didayagunakan untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingan manusia. SDA dibagi menjadi dua yaitu SDA yang dapat diperbaharui dan SDA yang tidak dapat diperbaharui. SDA yang dapat diperbaharui meliputi air, tanah, tumbuhan dan hewan. SDA ini harus kita jaga kelestariannya agar tidak merusak keseimbangan ekosistem. SDA yang tidak dapat diperbaharui itu contohnya barang tambang yang ada di dalam perut bumi seperti minyak bumi, batu bara, timah dan nikel. Kita harus menggunakan SDA ini seefisien mungkin. Sebab, seperti batu bara, baru akan terbentuk kembali setelah jutaan tahun kemudian. SDA juga dapat dibagi menjadi dua yaitu SDA hayati dan SDA non-hayati. SDA hayati adalah SDA yang berasal dari makhluk hidup (biotik) seperti hasil pertanian, perkebunan, pertambakan, dan perikanan. Sumber daya hayati adalah salah satu sumber daya dapat pulih atau terbarukan (renewable resources) yang terdiri atas flora dan fauna. Sumber daya hayati secara harfiah dapat diartikan sebagai sumberdaya yang mempunyai kehidupan dan dapat mengalami kematian. Jenis-jenis sumber daya hayati di antaranya adalah pohon, ikan, rumput laut, plankton, zooplankton, fitoplankton, harimau, semut, cacing, rumput laut, terumbu karang, lamun, dan sebagainya.SDA non-hayati adalah SDA yang berasal dari makhluk tak hidup (abiotik). Seperti: air, tanah, barang-barang tambang. (http://id.wikipedia.org/wiki/Sumber_daya_alam


BAB III
METODE PENELITIAN

3.1       Waktu dan Tempat Penelitian
Uji coba penelitian pengembangan ini dilakukan pada :
Hari & Tanggal           : Mei 2010 (penelitian)
                                                  Selasa, 11 Mei 2010 s/d Sabtu, 11 Mei 2010 (uji coba)
Tempat                        :
1.      Laboratorium IPA SMP Negeri 1 Probolinggo (sebagai tempat penelitian),
2.      Toilet Putri SMP Negeri 1 Probolinggo serta lingkungan sekitar SMP Negeri 1 Probolinggo ruas Jl. Karel Sasuit Tubun (sebagai tempat pengambilan jentik – jentik nyamuk)
Pukul                           : 11.00 – 12.30 WIB


3.2        Alat     :
·                     Palu, 
·                     Ulekan,
·                     Tempat penghalus,
·                     Gelas ukur,
·                     Neraca Ohaus,

Bahan :
·                     Lerak (biji), dihancurkan menjadi serbuk seberta 0,3 gram
·                     Daging buah lerak yang telah dihaluskan,
·                     Jentik nyamuk,
·                     Serbuk Abate 0,3 gram
·                     Alkohol 70 ml, 70%,
7

3.3 Proses Pengujian Penggunaan biji Lerak
Cara meneliti biji lerak, sebagai biopestisida alami untuk pengendalian jentik nyamuk
§         Pilihlah biji lerak yang sudah matang, dengan cara melihat warna kulit buah
(coklat kehitam - hitaman)
§         Kemudian, pecah biji lerak yang telah dipilih tersebut dengan palu atau alat
lainnya
§         Haluskan dengan ulekan atau dengan alat tumpul / alat penghancur lainnya
§         Jemur biji lerak yang telah dihaluskan dibawah terik matahari (lebih efisien
pada siang hari karena panas matahari begitu kuat) hal ini ditujukan untuk
menghilangkan produksi minyak yang terkandung dalam biji lerak.
§         Kemudian haluskan kembali biji lerak yang telah dijemur dan keringkan,
hingga berbentuk serbuk
§         Setelah itu, timbang serbuk lerak dengan serbuk tesebut dengan neraca ohaus
hingga berat keduanya seimbang
§         Rendam serbuk lerak yang telah dihaluskan itu kedalam alkohol, selama
semalaman
    • Lalu, masukkan dalam gelas ukur yang berisi air kurang lebih 400 ml, taburkan bubuk lerak sebagai abate tersebut kedalam, yang telah terisi jentik nyamuk.
§         Tunggu selama kurang lebih 2/3 jam,.




BAB IV
PEMBAHASAN


Dengan metode penelitian yang terlah dijabarkan oleh peneliti sebelumnya, dengan membandingkan tingkat keefektifan serbuk Abate dengan serbuk biji Lerak dengan berat yang sama (0,3 gram) pada 2 (dua) jentik – jentik nyamuk pada masing – masing gelas ukur 400 ml, didapat data – data sebagai berikut :

  • Gelas Ukur berisi serbuk biji Lerak
Gelas ukur 400 ml dengan serbuk biji Lerak didalamnya, setelah diamati selama kurang lebih 2 jam, 2 (dua) jentik – jentik nyamuk yang berada di dalam gelas ukur tersebut mati dalam keadaan mengapung di permukaan air pada gelas ukur tersebut dengan warna air yang terlihat jernih (tidak keruh)

  • Gelas Ukur berisi serbuk Abate
Gelas ukur 400 ml dengan serbuk Abate didalamnya, setelah diamati selama kurang lebih 2 jam, 2 (dua) jentik – jentik nyamuk yang berada di dalam gelas ukur tersebut hidup dengan gerakan pasif (terlihat lemah) dengan keadaan melayang di dalam air pada gelas ukur tersebut dengan warna air yang terlihat sedikit keruh

  • Zat – zat yang terkandung dalam biji Lerak :
Saponin           : yakni suatu alkaloid yang berfungsi sebagai bahan pencuci yang memiliki sifat seperti sabun dan bertindak sebagai surfaktan (bahan aktif yang berfungsi menurunkan tegangan permukaan air sehingga dapat melepaskan kotoran yang menempel pada permukaan bahan). Kandungan saponin dalam biji Lerak diketahui karena dalam fungsinya sebagai detergen batik telah membentuk gelembung – gelembung busa layaknya sabun. Saponin dalam biji lerak lebih banyak 1/4 kali dibanding kayu sabun, sehingga daya racun untuk membunuh dua ekor jentik – jentik nyamuk memerlukan waktu yang singkat.




BAB V
PENUTUP



5.1 Kesimpulan          :
            Dapat disimpulkan bahwa serbuk biji Lerak dapat dipakai sebagai pengganti obat pembasmi jentik – jentik nyamuk, serbuk Abate, dengan tingkat keamanan yang terjamin serta tingkat keefektifan serbuk biji Lerak lebih tinggi daripada serbuk Abate dalam proses pengendalian  perkembangbiakan jentik - jentik nyamuk Aedes Aegypti karena di dalam biji Lerak itu sendiri terdapat suatu zat yang disebut Saponin dengan daya racun ¼ kali lebih besar daripada sabun biasa yang dapat membunuh jentik – jentik nyamuk dalam waktu singkat. Penggunaan serbuk biji Lerak juga bersifat sebagai repelen yang mencegah kehadiran nyamuk.


5.2 Saran                    :
Dengan adanya penelitian “Potensi Biji Lerak (Sapindus rarak), Sebagai
Bioinsektisida Alami Pengganti Serbuk Abate Guna Mengendalikan Perkembangbiakan Jentik - Jentik Nyamuk di Wilayah Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo” , Warga dapat memanfaatkan sumber daya alam (segala sesuatu yang bersumber dari alam) sebagai benda / alat / obat dalam kehidupan sehari – hari utamanya biji lerak
Sebagai serbuk pengganti Abate dengan biaya lebih terjangkau serta tingkat keefektifannya yang lebih tinggi dalam memberantas perkembangbiakan jentik – jentik nyamuk utamanya Aedes Aegypti yang dewasa ini menjadi momok yang mewabah.

5.3 Harapan               :
Dengan adanya penelitian “Potensi Biji Lerak (Sapindus rarak), Sebagai Bioinsektisida Alami Pengganti Serbuk Abate Guna Mengendalikan Perkembangbiakan Jentik - Jentik Nyamuk di Wilayah Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo”, masyarakat Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo dapat menanggulangi wabah penyakit Demam Berdarah dengan efektif dengan tingkat keamanan terjamin serta dengan adanya serbuk biji Lerak sebagai pengganti serbuk Abate dapat mengurangi jumlah korban akibat adanya wabah penyakit Demam berdarah khususnya  di wilayah Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo.



DAFTAR PUSTAKA

  1. http://id.wikipedia.org/wiki/Sumber_daya_alam
  2. http://id.wikipedia.org/wiki/Lerak
  3. http://id.wikipedia.org/wiki/Sapindus
  4. http://indonetwork.co.id/bintang_agroart/1222971/abate-1g-larvasida-butiran-obat-jentik-nyamuk.htm
  5. http://kireyellow.blogspot.com/2010_04_01_archive.html
  6. http://id.wikipedia.org/wiki/Nyamuk
  7. http://www.google.com
  8. http://bioindustri.blogspot.com/2008/04/biopestisida.html]
  9. http://toko-herbal.blogspot.com/2009/06/bagaimana-kita-dapat-mencuci-tanpa.html
  10. 10. http://iirc.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/39931/2/F
  11. http://www.kaskus.us/showthread.php?t=403154195isi.pdf
 #NB : harap diurutkan karena daftar pustaka tersebut masih kurang runtut! *



 
BIOGRAFI PENULIS 1


Nama                                       : Adita Putri Hapsari
Nama Panggilan                      : Adita
Tempat, Tanggal Lahir            : Probolinggo, 4 Oktober 1995
E-mail                                      : laksamana_gynekolog@ymail.com
Nama Orang Tua                     : M. Adil Makruf, S.T. , M.Si
                                                  Dian Kuswinarti, SE
Hobby                                     : Browsing internet dan menulis
Cita – Cita                               : Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah dan Menteri
  Kesehatan
Motto                                      : Do my best by myself and I’ll be the best of the best
Sekolah                                   : SMP Negeri 1 Probolinggo
Prestasi                                    :
§               Juara I  Lomba Mata Pelajaran SD/MI Kota Probolinggo Th. 2005
§               Juara IV Olimpiade IPA SD/MI Kota Probolinggo Th. 2006
§               Juara VI Lomba Mata Pelajaran SD/MI Kota Probolinggo Th. 2004
§               Peringkat I  Lomba Menulis Cerpen th. 2007
§               Juara II Lomba Karya Tulis Ilmiah Remaja VI Tingkat Kota/Kabupaten Probolinggo/Pasuruan



BIOGRAFI PENULIS II


Nama   Lengkap                      : Vita Tri Handayani
Nama Panggilan                      : Vita
Tempat Tanggal Lahir             : Probolinggo, 05 Desember 1995
Nama Orang Tua                     : *Ayah : Suwadji, S.E
                                                  *Ibu : Suheriyeni
Alamat e-mail                          : cube_vita@yahoo.com
Hobby                                     : Baca buku bergambar, melukis, bulu tangkis, menulis, browsing internet & menyanyi
Cita - cita                                : Dokter
Moto                                       : Tommorow must be better than today
Prestasi                                    : SD
 *Juara 1 Lomba Pidato Bahsa Daerah,
    Tingkat Kota Probolinggo
  *Juara Harapan 1 Lomba Lukis,
    Tigkat Kota Probolinggo
* Juara II Lomba Karya Tulis Ilmiah Remaja VI Tingkat Kota/Kabupaten Probolinggo/Pasuruan

1 komentar on "Potensi Biji Lerak (Sapindus rarak) Sebagai Bioinsektisida Alami Pengganti Serbuk Abate Guna Mengendalikan Perkembangbiakan Jentik - Jentik Nyamuk di Wilayah Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo"

denikrisna on 10 Juni 2011 18.09 mengatakan...

salam kenal ya, aku spenza lulusan 2006

tulisannya bagus dan memang sesuai dgn realitas sekarang ^^b

mungkin mau komen ttg dapus dan sitasinya. gini dek klo bikin suatu proposal penelitian dan laporannya atau apapun yg berbau ilmiah, dapus kita jg harus ilmiah.
Blogspot, wordpress, kaskus, wikipedia tidak dikatakan ilmiah. Kenapa? karena siapapun bisa membuat dan mengeditnya.
Sumber yang dikatakan ilmiah itu jurnal penelitian (dalam hal ini mungkin kamu mengambil kandungan dari biji lerak, potensinya dll) atau minimal buku.
Misalnya ada dapus dari internet cara nulis dapusnya:
Pengarang, tahun, judul, dari alamat web apa, diakses pada

misalnya kalo kamu ambil dari wiki
Anonim, 2011, Sapindus, http://en.wikipedia.org/wiki/Sapindus, diakses pada 20 Maret 2011

Trus kalo sitasi cara nulisnya cuma (Pengarang, tahun)

Sori keliatan agak cerewet tp untuk lebih baik ke depannya.

Dan tetap semangat ya d^^b

Cheers :)

Deni

Poskan Komentar

 

Adita's Zone Copyright © 2009 Paper Girl is Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by web hosting